Lulus TK Bisa Baca, Kenapa Tidak?

KONTROVERSI masuk sekolah dasar (SD) wajib bisa baca terus berkembang. Seperti diberitakan Jawa pos (7/7 2008), Dispendik Surabaya mengeluarkan instruksi tegas melarang penerimaan siswa baru SD melakukan seleksi akademik. Namun, masih banyak sekolah yang nekat melaksanakan seleksi siswa baru dengan tes kemampuan baca-tulis.

Sesuai dengan surat keputusan Kadispendik Surabaya No 422/2931/436.5.6/2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik di Kota Surabaya Tahun Pelajaran 2008/2009, penerimaan siswa kelas 1 SD harus berdasar acuan telah berusia 7-12 tahun. Yang terpenting, tidak boleh diadakan seleksi akademis.

Yang jadi pertanyaan, benarkah lulusan TK (taman kanak-kanak) tidak boleh dibekali dengan kemampuan baca tulis? Terlepas dari kontroversi PSB ke SD dengan atau tanpa tes baca tulis, yang jelas anak usia 4-6 tahun memiliki peningkatan perkembangan kecerdasan cukup pesat, dari 50 persen menjadi 80 persen.

Usia 4-6 tahun merupakan masa peka bagi anak. Saat itu, terjadi pematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespons stimulasi yang diberikan lingkungan. Dengan demikian, dibutuhkan kondisi dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal.

Mengapa ada praktisi pendidikan yang berpendapat agar anak tak diajari baca tulis sebelum berusia tujuh tahun? Itu tidak lebih sebagai warning kepada pendidik siswa prasekolah dan orang tua agar tidak gegabah dalam mengajarkan “membaca” kepada anak dalam rentang golden age tersebut. Penting bagi orang tua dan guru TK untuk memelihara lingkungan yang aman bagi anak usia ini. Praise (pujian), patience (kesabaran), dan practice (praktik) merupakan tiga keterampilan mendasar yang harus dimiliki pendidik dan orang tua selama mendampingi anak belajar membaca.

Dalam standar kompetensi kurikulum TK Depdiknas, antara lain, disebutkan anak mampu mendengarkan, berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, dan mengenal simbol-simbol yang melambangkannya untuk persiapan membaca dan menulis. Dari kurikulum itu, jelas bahwa awal pembelajaran membaca adalah masa prasekolah.

Yang harus ditekankan, mereka belum siap membaca secara formal. Sehingga, untuk mengantarkan anak usia prasekolah pada pemahaman bahwa ada hubungan antara bahasa lisan dengan tulisan (pra membaca) diperlukan perlakuan khusus. Misalnya, kegiatan mendengarkan dan membedakan bunyi suara dan mengucapkannya, mendengarkan dan menceritakannya secara sederhana, menghubungkan gambar dengan kata, menghubungkan tulisan dengan simbol yang melambangkannya. Itu akan mengantar anak cepat membaca dengan sendirinya.

Dengan pembelajaran yang benar tersebut, banyak orang tua bertanya kepada guru TK, mengapa anaknya tiba-tiba bisa membaca koran? Padahal, orang tua tidak pernah mengajarinya. Semua itu terjadi karena mereka memiliki pengalaman yang menarik sehingga mampu mendorongnya untuk belajar membaca dengan baik tanpa melalui proses drill dan drill. Proses drill justru akan menjauhkan anak dari proses alamiah mereka, yaitu bermain. Bagi anak usia prasekolah, bermain adalah sumber inspirasi dalam belajar.

Sebenarnya, dalam PSB ke SD, masih bisa dibenarkan tes baca tulis dan berhitung. Dengan catatan, itu dilakukan untuk observasi kepribadian siswa, bukan untuk tujuan tes akademik.

Masih banyaknya sekolah yang nekat melakukan tes baca tulis lebih disebabkan kekhawatiran guru, mengingat tekanan akademik yang dialami siswa kelas 1 SD saat ini amat berat. Beban pelajaran formal seperti IPA, IPS, matematika, bahasa Jawa, bahasa Indonesia adalah beban yang langsung harus dihadapi siswa kelas 1 SD. Proses belajar membaca yang benar di TK akan sangat membantu siswa ketika dia masuk jenjang sekolah dasar.

Iklan

Leave a comment »

Menggali Potensi Anak

Anak adalah berkah dan karunia Tuhan yang dititipkan kepada orang tua sebagai pemegang amanah. Dalam menjalankan amanah tersebut orang tua mewarnai kepribadian anak lewat torehan pola pendidikan yang diterapkan sejak usia dini. Keluarga sebagai based learning bagi anak merupakan sekolah pertama bagi anak. Karena melalui keluarga sebagian besar kehidupan anak berlangsung.

Menurut Hurlock (1994) dan (Munandar (1999) , bila ditinjau dari psikologi perkembangan, masa anak dapat terbagi menjadi :

* Masa bayi, yaitu sejak lahir sampai akhir tahun kedua

* Masa awal anak atau masa kanak-kanak, ayitu dari permulaan tahun ketiga sampai pada usia enam tahun. Masa ini juga disebut masa prasekolah karena anak sudah mulai bersekolah di kelompok bermain (play group) dan taman kanak-kanak (kindergarten)

* Masa anak lanjut atau masa sekolah, yaitu dari usia 6 sampai 12 tahun. Masa ini disebut juga masa usia sekolah dasar

* Masa remaja yaitu masa menerima keadaan fisik dan menggunakan tubuhnya secara efektif serta mengharapkan & mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab

Setiap tahap perkembangan memiliki tugas belajarnya sendiri, mulai dari tugas perkembangan motorik, intelektual, sosial, emosi dan kreativitas. Oleh karena itu orang tua, sekolah dan pemerintah haruslah bersinergi dalam menciptakan iklim pendidikan yang kondusif bagi anak. Karena setiap manusia mempunyai fitrah sebagai pendidik.

Anak memiliki keunikan sendiri, dimana setiap anak mempunyai karakteristik yang khas. Berdasarkan keunikan ini maka orang tua, pendidik dan lingkungan harus dapat melihat potensi anak.

Potensi adalah kemampuan atau kekuatan atau daya, dimana potensi dapat merupakan bawaan (bakat) dan hasil dari stimulus atau latihan dalam perkembangan anak.

Seringkali terjadi bahwa orang tua dan guru tidak dapat mengenali potensi anak, sehingga anak-anak yang berpotensi dan berbakat tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Bahkan anak-anak yang tidak berprestasi dikarenakan mereka tidak diberikan stimulus dan pelatihan untuk mengembangkan potensinya secara optimal.

Namun dalam melatih potensi anak, orang tua dan pendidik juga harus mengasah kreativitas anak. Karena tanpa melatih kreativitas anak maka potensi kecerdasan dan bakat anak menjadi rendah. Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah (Munandar, 1999).

Ciri-ciri anak yang kreatif adalah :

* wajahnya cerah dan berfisik dinamis

* berminat luas mulai dari musik-mata pelajaran-politik

* sering bertanya yang berbobot

* selalu ingin tahu, atau mendapat penjelasan yang berdasar ilmiah

* tidak berbatas tembok status

* berani ambil resiko

* mempunyai banyak alternatif untuk menyeleasikan masalah

* tidak cepat puas, hampir selalu ingin sempurna

* berani tampil beda,

* senang menggali pengetahuan

* mempunyai gagasan-gagasan yang original

Selain kreativitas konsep pengajaran menjadi hal yang penting untuk diperhatikan orang tua dan pendidik. Salah satu penunjang munculnya potensi anak secara optimal dengan menggunakan konsep-konsep pendidikan dan pengajaran yang tepat.. Konsep-konsep pengajaran yaitu:

* holistic education , berdasarkan kecintaan lingkungan dan mendorong kreativitas anak

* Montessori, berdasarkan potensi dan karakter anak sesuai dengan perkembangan anak

* Multiple Intellegence /Kecerdasan majemuk, berdasarkan keyakinan bahwa setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda

* Smart reader, memacu potensi anak menjadi prestasi

* Thematic Approach, penyampaian berdasarkan tema agar pemahaman anak menyeluruh terhadap suatu materi

* Dll.

Berdasarkan konsep-konsep diatas, maka pada dasarnya konsep pengajaran akan berjalan dengan baik dan potensi anak akan optimal bila orang tua dan pendidik paham terhadap konsep-konsep tersebut.

Menurut Munandar (1999) dan Rachman (2006) untuk memupuk dan menciptakan suasana yang mendukung munculnya potensi anak maka pendidik sebaiknya bersikap :

* Menghargai kreativitas anak

* Terbuka terhadap gagasan-gagasan baru

* Mengakui dan menghargai adanya perbedaan individual

* Menerima dan menunjang anak

* Menyediakan pengalaman belajar yang terdiferensiasi

* Tidak sebagai tokoh yang ”Maha tahu” tetapi menyadari keterbatasan sendiri

* Memberikan keleluasan anak untuk menjalankan model pembelajaran sehingga anak tidak dihambat pemikiran dan sikap serta perilaku kreatif anak

* Sebagai model bagi anak

Sedangkan orang tua diharapkan bersikap :

* Menunjukkan minat terhadap hobi tertentu

* Menyempatkan berdiskusi dengan anak

* Stimulus dengan bahan bacaan dan mainan edukatif

* Menciptakan lingkungan rumah dimana orang tua berperan serta dalam kegiatan intelektual

* Menciptakan lingkungan pembelajaran dan kreativitas seperti mengajak anak bernyanyi, menari, dll

* Perlunya ruang di rumah untuk tempat kreativitas anak

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama keluarga (orang tua), sekolah dan masyarakat. Keluarga dan sekolah dapat bersama-sama mengusahakan pelayanan pendidikan bagi anak yang berpotensi yaitu dengan cara memandu dan memupuk minat anak. Orang tua dapat membantu sekolah dalam merencanakan dan menyelenggrakan program-program kunjungan atau proyek-proyek tertentu yang menyentuh sendi-sendi kehidupan dan sekolah dapat memfasilitasi potensi anak dengan menumbuhkan kreativitas mereka. Setiap anak memiliki keunikan dan kekhasan pribadinya masing-masing yang mempengaruhi tingkah lakunya dalam belajar. Oleh karena itu orang tua harus menyadari perkembangan kepribadian anak, dengan memahami perkembangan anak maka kita dapat memecahkan masalah pendidikan. Dan dengan tingkat pemahaman besar terhadap perkembangan anak membuat orang tua dan pendidik dapat menggali potensi anak sesuai dengan minat dan bakat mereka.
8 Ju

Leave a comment »

Peranan Pendidikan Bagi Anak Usia Dini

Peranan pendidikan adalah suatu peranan yang menentukan kualitas pendidikan seorang anak di usia dini.  Begitu juga dengan pengaruhnya pada pembentukan karakter dan perkembangan kepribadian seorang anak.

Di usia awal dasar-dasar kepribadian anak mulai terlihat dan kita sebagai orang terdekat harus dapat mengarahkan ke jalur yang tepat.

Karena pada masa kecil anak-anak sering mendapatkan gambaran kepribadian yang berbeda dari lingkungan yang ada di sekitarnya, sehingga kita harus berhati-hati berperan dalam pembentukan kepribadian anak itu.

Peranan pendidikan bagi anak usia dini merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah.Kepribadian anak akan terbentuk juga di sekolah karena mereka mendapatkan sebuah lingkungan social yang baru.

Lingkungan utama yang berperan dalam pendidikan seorang anak tentu datang dari keluarga inti yaitu ayah, ibu serta adik dan kakaknya. Lingkungan ini merupakan lingkungan yang paling bertanggung jawab dalam mendidik  seorang anak.

Peranan pendidikan yang diberikan orang tua seharusnya memberikan dasar bagi pendidikan anak itu sendiri, proses sosialisasi dan kehidupannya di masyarakat. Dikatakan demikian karena sejak kelahirannya anak berada pada lingkungan keluarga dan di bawah asuhan orangtuanya.

Peranan pendidikan di usia dini tidak hanya untuk memberikan banyak pengalaman belajar seperti yang terjadi pada orang dewasa namun lebih condong pada mengoptimalkan perkembangan kualitas kecerdasannya. Pendidikan ini mencakup seluruh proses stimulasi psikososial tak terbatas pada pembelajaran yang berada dalam kelas atau di sekolah.

Pendidikan yang penuh pemahaman, pengembangan dan kesempatan seluas-luasnya diberikan pada anak untuk menunjukan potensi dirinya sendiri. Meskipun cara yang ditunjukkan tidak seumum orang dewasa namun itu adalah tugas kita sebagai orangtua untuk memberikan pengarahan yang jelas pada si anak.

Peranan pendidikan bagi anak usia ini harus lebih dipertimbangkan untuk membuat suatu program yang terencana dan sistematis. Karena pada masa seperti sekarang ini anak sebisa mungkin dihindarkan dari suatu pengaruh yang akan membuatnya salah arah.

Dengan demikian anak akan akan terdidik lebih cerdas dan lebih mengembangkan potensi dirinya sehingga dia akan menjadi seorang anak yang berpikir positif dan berpikiran terbuka.

Karena itu kita harus lebih memperhatikan masalah paradigma pendidikan yang tidak mengabaikan aspek pertumbuhan dan perkembangan usia dini serta menekankan aspek moral yang lebih dalam . Dengan begitu si anak akan tumbuh menjadi anak yang lebih berarti bagi keluarga, masyarakat dan bangsanya.

Leave a comment »

Majalah Anak Untuk Meningkatkan Kreativitas Anak

Menurut Poerwodarminto, majalah diartikan sebagai surat kabar berkala, surat kabar yang terbit mingguan, bulanan, dan sebagainya.

Sebagai media cetak berkala, majalah memiliki andil besar sebagai sarana peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi masyarakat pembacanya karena majalah memuat berbagai informasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang relatif, termasuk majalah anak.

Dalam proses pembelajaran di sekolah, majalah anak sering difungsikan sebagai media pembelajaran, mulai tingkat yang paling rendah, di Taman Kanak-Kanak. Bahkan,di lingkungan keluarga, majalah sering difungsikan sebagai sarana belajar dirumah.

Dalam situasi formal (di kelas) maupun nonformal (di keluarga), majalah dianggap merupakan sarana pembelajaran yang paling menarik karena tampilannya cukup bervariasi, baik dari segi model pembelajaran, gambarnya yang berwarna-warni, maupun tampilan bahasanya yang mudah diikuti anak.

Selain itu, majalah anak merupakan media belajar yang mudah dijangkau oleh sekolah dan keluarga karena harganya relatif murah dantersedia di mana-mana. Karena itu, bukan hal yang mengejutkan kalau sekarang omsetnya semakin lebih besar.

Dengan melihat performansinya, akan dapat diketahui letak kemenarikan dan kelebihan majalah. Dilihat dari isinya, majalah anak yang selama ini difungsikan di TK memuat berbagai kompetensi dasar yang harus dikuasai anak, diantaranya kompetensi berbahasa, daya pikir, dan keterampilan. Ketiga kompetensi ini disajikan dengan berbagai variasi strategi pembelajaran.

Namun demikian, sampai saat ini belum diketahui secara pasti model yang dapat difungsikan oleh guru untuk meningkatkan kompetensi berbahasa lisan anak dan diminati anak. Pada umumnya, guru hanya menyajikan majalah anak sebagai model dan sekaligus sebagai media pembelajaran tanpa mempertimbangkan kesesuaiannya dengan anak. Akibatnya anak-anak sering merasa jenuh

Majalah anak sebagai salah satu media pembelajaran di TK setidaknya memenuhi tiga syarat, yaitu :

1. edukatif, sarana pembelajaran harus sesuai dengan kurikulum dan didaktik metodik. Artinya, sarana pembelajaran harus sesuai dengan tingkat kemampuan anak, dapat mendorong kelancaran dan keberhasilan kegiatan belajar mengajar.

2. teknis, sarana pembelajaran harus memenuhi syarat, kebenaran ditinjau dari konsep ilmu, ketelitian, keawetan, ketahanan, kejelasan teknik, kemudahan pemakaian, keamanan, ketepatan ukuran, dan kontabilitas (keluwesan).

3. estetika, sarana pembelajaran harus memenuhi syarat estetis, ukurannya sesuai, dan warna serta kombinasinya serasi.

Majalah anak ditinjau dari performansinya memiliki karakteristik khas yang berbeda dari majalah untuk orang dewasa. Ditinjau dari berbagai segi, terbagi menjadi:

1. segi bahasa,

2. segi isi,

3. segi tekniknya.

Dari segi bahasa, majalah anak memiliki ciri :

1. kosakata yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan anak,

2. kalimatnya sederhana.

Dari segi isi, majalah anak disusun dengan memperhatikan program kegiatan TK dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

1. Isi harus sesuai dengan program kegiatan belajar dalam rangka pembentukan perilaku yang meliputi pengembangan moralPancasila, agama, perasaan/emosi, kemampuan bermasyarakat.

2. Isi harus sesuai dengan program kegiatan belajar dalam rangka pengembangan kemampuan dasar, yang meliputi pengembangan kemam-puan berbahasa, daya pikir, daya cipta, keterampilan dan jasmani.

Dari segi teknis, majalah anak banyak menggunakan permainan sebagai sarana pembelajaran, banyak menggunakan gambar yang berwarna-warni, dan pembelajarannya memiliki berbagai model yang disesuaikan dengan perkembangan psikologis anak.

Pada umumnya, majalah yang digunakan di TK diciptakan untuk anak TK. Karena itu, performansi model pembelajarannya pun disesuaikan dengan perkembangan psikologis anak TK.

Leave a comment »

Pendidikan Anak

Pendidikan anak merupakan satu hal penting yang tidak bisa kita abaikan. Sebagai orang tua, hendaknya kita memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak. Hal itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan memilihkan sekolah yang baik buat anak. Ingat, anak merupakan generasi masa depan bangsa. Hal terpenting untuk menuju cita-cita adalah pendidikan.

Tanggung jawab pendidikan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab sekolah, meski sekolah sudah menyiapkan kurikulum untuk mendidik anak. Pendidikan terbaik tetap saja terletak pada Anda sebagai orang tuanya. Anggap saja anak berada di sekolah selama 8 jam, sedangkan sisanya yang 16 jam adalah bersama Anda. Karenanya, Anda, perlu terlibat langsung dalam pendidikan anak di sekolah. Berikut beberapa hal yang bisa Anda lakukan :

Memberikan Dukungan

Selalu berikan perhatian kepada anak, dan tanamkan nilai dan tujuan pendidikan. Upayakan untuk selalu mengetahui perkembangan anak di sekolah. Anda bisa melakukan kunjungan untuk melihat situasi dan lingkungan pendidikan di sekolah. Menaruh minat terhadap aktivitas sekolah akan secara langsung mempengaruhi pendidikan anak.

Sediakan waktu untuk anak

Sebagai orang tua, Anda harus selalu menyediakan waktu yang cukup banyak bagi anak. Jadilah tempat curhat untuk menampung stress anak Anda. mendengarkan keluhannya, dan berusaha turut memberikan solusi atas permasalahannya disarankan dalam pendidikan anak.

Awasi kegiatan belajar di rumah

Tunjukkan Anda berminat pada pendidikan anak Anda. Pastikan anak Anda sudah mengerjakan tugas mereka. Wajibkan diri Anda untuk mempelajari sesuatu bersama anak-anak Anda. Membacalah bersama-sama mereka. Jangan lupa jadwalkan waktu setiap hari untuk memeriksa pekerjaan rumah anak Anda. Kendalikan waktu menonton TV, Internet dan kegiatan lainnya.

Mengajarkan tanggung jawab

Anak dapat bertanggung jawab mengerjakan tugas di sekolah jika Anda telah mengajar mereka untuk mengerjakan tanggung jawab di rumah. Cobalah mulai memberikan pekerjaan rumah tangga rutin setiap hari dengan jadwal yang spesifik. Hal itu akan mengajarkan rasa tanggung jawab yang mereka butuhkan agar berhasil di sekolah dan di kemudian hari dalam kehidupan.

Menjadi teman terbaik

Jadilah teman terbaik bagi anak Anda. Luangkan waktu untuk berbagi dalam banyak hal. Seorang anak membutuhkan semua teman yang matang yang bisa ia dapatkan. Sebagai orang-tua, Anda dapat menghindari banyak problem dan kekhawatiran atas pendidikan anak Anda dengan mengingat bahwa kerja sama yang sukses dibangun atas komunikasi yang baik.

Disiplin

Jalankan disiplin dengan tegas namun penuh kasih sayang. Selalu menuruti keinginan anak tidak disarankan dalam pendidikan anak, karena membuatnya manja dan tidak bertanggung jawab. Problem lain bisa muncul seperti seks remaja, narkoba, prestasi yang buruk, dsb.

Menjaga kesehatan

Jaga kesehatan anak Anda agar prestasi belajarnya tidak terganggu. Buat jadwal tidur yang cukup untuk anak Anda. Jika kelelahan, mereka tidak dapat belajar dengan baik. Hindari makanan seperti junk food, yang mendatangkan pengaruh buruk terhadap kesanggupannya untuk berkonsentrasi.

Kerja Sama dengan Guru

Tidak ada salahnya Anda mengenal guru dan menjalin hubungan baik dengan mereka. Berkomunikasilah untuk perkembangan anak Anda. Guru perlu tahu bahwa Anda memandang penting pendidikan anak Anda, sebagai bagian kehidupannya. Ini akan membuat guru lebih memperhatikan anak Anda. Hadirilah pertemuan orang tua murid dan guru yang diselenggarakan oleh sekolah, sehingga memiliki kesempatan untuk mengetahui prestasi akademis serta perkembangannya di sekolah.

Leave a comment »

Mengkritisi Lagu Anak

Sukakah Anda mendengarkan lagu untuk Anda? Tidak jarang ibu-ibu saat ini yang memilih produk lagu anak zaman dulu yang masih banyak dihafal lagu-lagunyam seperti yang diciptakan oleh Bu Kasur dan Pak AT Mahmud yang sangat mendidik, santun dan tak lekang oleh waktu.

Kemudian, jika Anda mengamati, lagu anak di era 80an masih merupakan warisan dari zaman sebelumnya. Biasanya ditandai dengan durasinya yang pendek dan kalimat yang mendidik, serta mudah dipahami.

Berbagai contoh yang tetap popular hingga saat ini diantaranya : Balonku, Bintang Kecil, Aku Seorang Kapiten, Naik Kereta Api, Pelangi, dan lain sebagainya. Penyanyi anak yang terkenal pada masa dulu antara lain Adi Bing Slamet, Ira Maya Sopha dan Chica Koeswoyo.

Semenjak dikenal TV swasta pada era 90an, maka mulai dikenal penyanyi dan lagu anak yang beragam. Pada saat awal era tersebut, nama Puput Novel paling dikenal. Meski demikian, lagu-lagu tersebut banyak dinikmati oleh anak TK maupun SD saja.

Kemudian, hadirlah Cikita Meydi, Eno Lerian, Leoni, Dea Ananda, yang memberi ikon masa kanak-kanak yang khas lewat lagunya tentang persahabatan, pendidikan, kasih sayang ibu, sebuah harapan dan cita-cita layaknya syair lagu Joshua yang berangan menjadi seorang Habibie, atau banyak hal tentang semangat militansi dunia anak.

Sedangkan di era 2000, anak-anak sudah lebih bebas menikmati lagu dalam berbagai format, diantaranya VCD, MP3, maupun handphone. Dengan kemudahan ini, anak di zaman sekarang tidak lagi hanya mendengarkan lagu anak, namun lebih menyenangi lagu remaja.

Kondisi ini kadang membuat miris, ketika anak justru gemar menyanyikan lagi bertema cinta. Tidak bisa dipungkiri, tidak banyak penyanyi cilik saat ini yang bisa mendendangkan lagu anak bertema klasik dan memiliki nuansa masa kecil nan bahagia, kecuali Sherina dan Tasya. Tidak sedikit yang mengikut gaya orang dewasa, dan tidak memiliki pesan moral yang patut dicontoh.

Perlu kita pahami bahwa musik ibarat pedang bermata dua. Secara psikologis, musik dapat membawa peran yang positif dalam pembentukan mental dan perilaku. Sebagai contoh adalah musik klasik yang digunakan sebagai sarana terapi oleh ibu hamil.

Di lain sisi, musik justru dapat mengonstruksi mental, perilaku, dan sikap ke dalam sebuah ruang yang terisolasi, asing, aneh, bahkan cenderung indoktrinatif dan intervensial. Termasuk dalam hal ini adalah lagu anak.

Begitu pula halnya dengan musik untuk dunia anak. Mereka menyanyi, tetapi bukan lagi dari hati yang mewakili mereka dan tidak lagi tema anak yang dibawakannya. Tidak ada lagi tema pendidikan, persahabatan, cita-cita, kasih sayang ibu, yang dinyanyikan dalam lagu anak, tetapi justru tema asmara dan cinta.

Sudah selayaknya kita mengembalikan sebuah masa bagi anak- anak yang kini telah hilang dengan menempatkan lagu anak pada koridor dan ruang yang semestinya. Kita bisa mengenalkan anak pada hal-hal sederhana, seperti alam, hewan, pancaindera, juga mendidik pola berpikir anak secara runtut dan terpola, seperti yang banyak diciptakan oleh orang barat.

Dengan lagu anak, kita bisa mengajak anak belajar dan sekaligus membentuk pola berpikirnya agar menjadi lebih kreatif. Anak diajarkan cara membaca, sehingga merasa nyaman dan tidak seperti sedang belajar.

Saatnya menciptakan lagu yang mendidik dan dapat membentuk karakter kecerdasan anak, agar kelak mampu bersaing dengan teman-temannya di belahan buni manapun.

Leave a comment »

Manfaat Cerita Anak

Padahal, tontonan yang disajikan televisi, yang tersaji mulai dari anak bangun tidur hingga Saat ini, cerita anak bukan lagi hal populer.

Budaya mendongeng atau bercerita kepada anak-anak sepertinya sudah mulai mengendur, tergantikan budaya menonton Televisi, Play Station, Videogame dan teknologi canggih lainnya, belum tidur tentu sesuai untuk usia anak.

Baik itu kartun, sinetron, kuis, reality show, dan sebagainya.

Sebenarnya banyak sekali manfaat yang kita dapatkan dari cerita anak, diantaranya adalah :

  • Cerita adalah cara paling pas untuk mendisiplin anak

Di Nepal, anak-anak tidak didisiplinkan melalui hukuman fisik karena para ibu tidak suka melihat anak-anak murung atau menangis. Sebaliknya, mereka mengontrol perilaku anak lewat cerita. Ternyata cara ini cukup berhasil.

  • Mempererat ikatan dan komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak.

Anak-anak paling suka mendengarkan cerita anak. Jika kita lakukan setiap hari, maka cara ini dapat membuat kita semakin mengenal anak kita dan sebaliknya. Kalangan ahli psikologi menyarankan agar orangtua membiasakan mendongeng untuk mengurangi pengaruh buruk alat permainan modern. Hal itu dipentingkan mengingat interaksi langsung antara anak balita dengan orangtuanya dengan bercerita sangat berpengaruh dalam membentuk karakter anak menjelang dewasa.

  • Mengasah daya pikir, kreatifitas dan imajinasi

Anak dapat membentuk visualisasinya sendiri dari cerita yang didengarkan. Ia dapat membayangkan seperti apa tokoh-tokoh maupun situasi yang muncul dari dongeng tersebut. Lama-kelamaan anak dapat melatih kreativitas dengan cara ini. Anak yang biasa mendengarkan cerita, akan lebih mudah mengungkapkan isi hati dan pemikirannya dengan kata-kata, lisan maupun tertulis. Dia akan memiliki banyak kosa kata.

  • Cerita anak merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika

Berbagai nilai seperti kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, kerja keras, hingga empati maupun berbagai kebiasaan sehari-hari seperti pentingnya makan sayur dan menggosok gigi. Anak juga diharapkan dapat lebih mudah menyerap berbagai nilai tersebut, karena tidak bersikap memerintah atau menggurui, sebaliknya para tokoh cerita dalam dongeng tersebutlah yang diharapkan menjadi contoh atau teladan bagi anak.

  • Cerita anak dapat melatih Multiple Intelligences

Melalui dongeng, jelajah cakrawala pemikiran anak akan menjadi lebih baik, lebih kritis, dan cerdas. Anak juga bisa memahami hal mana yang perlu ditiru dan yang tidak boleh ditiru. Hal ini akan membantu mereka dalam mengidentifikasikan diri dengan lingkungan sekitar disamping memudahkan mereka menilai dan memposisikan diri di tengah-tengah orang lain. Sebaliknya, anak yang kurang imajinasi bisa berakibat pada pergaulan yang kurang, sulit bersosialisasi atau beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

  • Sebagai langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak.

Setelah tertarik pada berbagai cerita anak, mereka diharapkan mulai menumbuhkan ketertarikannya pada buku. Diawali dengan buku-buku cerita yang sering didengarnya, kemudian meluas pada buku-buku lain seperti buku pengetahuan, sains, agama, dan sebagainya.

Terlepas dari banyaknya manfaat tersebut, hendaknya kita tetap harus berhati-hati. Jika tidak teliti, cukup banyak cerita anak yang rawan menjadi teladan buruk bagi anak-anak. Hal ini disebabkan muatan yang terkandung harus dipertimbangkan dengan kondisi psikologi yang mungkin deserap oleh sang anak, Jangan sampai terjadi kesalahan pemahaman dari cerita tersebut, yang dimaksudkan positif malah menjadi negatif…

Leave a comment »