[Cinta Dongeng, Cinta Baca] Mengembangkan Imajinasi Anak Melalui Dongeng

Masih teringat jelas dalam ingatan dongeng yang selalu diceritakan kepada saya waktu kecil, yaitu dongeng “Kancil Nyolong Timun” . waktu itu saya dengan penuh imajinasi membayangkan keadaan alam, bentuk binatang Kancil, dan petani yang jengkel karena buah mentimunnya dicuri si Kancil yang cerdik.

Saat ini, jarang sekali saya mendengar anak kecil—sehabis didongengkan orangtuanya—bercerita tentang Kancil Nyolong Timun atau dongeng-dongeng lainnya kepada teman-temannya. Saya rasa hal ini dikarenakan anak-anak sudah tidak pernah mendapatkan dongeng-dongeng. Orangtua terkadang malas membacakan dongeng kepada anaknya, mereka malah membiarkan anaknya tidur di depan televisi. Sehingga jarang sekali anak-anak saat ini yang mengerti dongeng.

Televisi telah menguasai dunia anak-anak. Sehingga anak-anak lebih ramah terhadap televisi daripada buku. Dalam hal pendidikan, buku lebih mendidik ketimbang televisi. Hal ini dikarenakan televisi merupakan cerita bergambar yang bisa dinikmati bahkan bisa menyihir anak hingga betah berlama-lama di depan televisi untuk menonton acara kesayangannya. Sedangkan buku akan merangsang anak untuk berimajinasi, sehingga membuat anak dapat berpikir kreatif.

Meskipun tidak semua film mempunyai efek negatif, pastinya ada juga efek positifnya. Beberapa film yang bisa mendidik misalnya saja Denias; Senandung di Atas Awan kisah seorang anak Papua yang mempunyai keinginan keras untuk dapat mengenyam pendidikan formal, yaitu sekolah. Dengan penuh semangat, Denias berjuang untuk bisa sekolah. Namun di kemudian hari terjadi musibah yang menewaskan ibunya serta guru yang mengajar pulang ke Jawa. Namun, dengan kegigihannya serta didukung oleh Guru Sam, Denias dapat meneruskan kembali sekolahnya.

Film-film seperti inilah yang dapat mengajarkan kepada anak bahwa hidup harus mempunyai semangat dan keinginan yang keras. Walaupun kadang film seperti membuat anak menganggap bahwa pendidikan sekolah adalah menjadi kebutuhan utama, sehingga melupakan pendidikan non formal serta bersosialisasi yang tidak kalah penting.

Alangkah baiknya, ketika masih anak-anak banyak disuguhi dongeng dan buku ketimbang nonton film. Ketika masih anak-anak, daya imajinasi serta berpikir kreatif adalah hal yang utama untuk mendidik mereka.

Dongeng—baik yang didongengkan oleh orangtuanya atau dengan membaca buku sendiri—adalah hal yang baik. Seperti dongeng fabel Tiga Tupai Kecil terbitan Mizan, isinya mempunyai beberapa hal positif yang dapat dipetik, misalnya saja mengajari anak memperkenalkan nama-nama hewan, banyak nasihat bijak yang dapat diambil, seperti pentingnya berbagi dan bersahabat, serta menghargai perbedaan.

Sehingga ketika anak menjadi dewasa, dongeng-dongeng tersebut—meskipun sedikit—tetap akan ada yang bisa diingat dengan imajinasinya masing-masing. Hal ini dapat membantu anak dalam bergaul dengan teman sebaya, sehingga nantinya anak tidak menjadi asosial. Karena banyak cerita yang bisa ia bagi dengan teman-temanya, maupun hasil dari pelajaran yang dipetik dari dongeng itu secara tidak langsung bisa terbawa dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan banyaknya pilihan buku dongeng, seharusnya dapat memacu para orangtua memilih dan mendongengkan untuk anak-anaknya. Mengenalkan anak terhadap sesuatu sangat mudah jika dilakukan melalui dongeng. Mengenalkan anak terhadap warna, berhitung, nama binatang, nama tumbuhan dan lain sebagainya itu sangat mudah disampaikan dan ditangkap oleh anak melalui dongeng.
Buku Seri Tokoh Dunia yang diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo juga sangat menarik untuk diberikan kepada anak. Mengenalkan beberapa tokoh dunia yang diceritakan dengan sangat menarik dan mudah dipahami. Dari Sidharta Gautama, Isaac Newton, Julius Caesar dan masih banyak lagi tokoh dunia ada dalam buku Seri Tokoh Dunia.

Dengan begitu si anak dapat mengenali para tokoh sejak dini. Baik sejarah, atau berbagai hal yang ditemukan oleh para tokoh itu. Sehingga sejak dini anak mempunyai semangat dan cita-cita, setidaknya impian untuk menjadi seperti mereka. Setidaknya ketika si anak mempunyai impian atau cita-cita menjadi seperti para tokoh dunia, si anak tidak akan malas, namun mencotoh hal-hal yang dilakukan oleh para tokoh.

Tentunya hal seperti ini tidak lepas dari peran aktif orangtua dalam mendidik anak serta mengarahkan anak untuk membaca buku. Hal ini dapat dilakukan dengan memberi contoh yang baik. Kalau otangtuanya saja malas membaca buku dan mendongeng untuk anaknya, bagaimana bisa berharap nantinya si anak mau membaca buku.

Anak-anak adalah makhluk yang pandai menirukan sesuatu dengan cepat, baik hal baik maupun hal buruk. Jika sejak dini diperkenalkan terhadap hal yang baik, melalui dongeng atau buku niscaya si anak ketika dewasa akan cinta dongeng dan cinta terhadap buku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: