Lulus TK Bisa Baca, Kenapa Tidak?

KONTROVERSI masuk sekolah dasar (SD) wajib bisa baca terus berkembang. Seperti diberitakan Jawa pos (7/7 2008), Dispendik Surabaya mengeluarkan instruksi tegas melarang penerimaan siswa baru SD melakukan seleksi akademik. Namun, masih banyak sekolah yang nekat melaksanakan seleksi siswa baru dengan tes kemampuan baca-tulis.

Sesuai dengan surat keputusan Kadispendik Surabaya No 422/2931/436.5.6/2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik di Kota Surabaya Tahun Pelajaran 2008/2009, penerimaan siswa kelas 1 SD harus berdasar acuan telah berusia 7-12 tahun. Yang terpenting, tidak boleh diadakan seleksi akademis.

Yang jadi pertanyaan, benarkah lulusan TK (taman kanak-kanak) tidak boleh dibekali dengan kemampuan baca tulis? Terlepas dari kontroversi PSB ke SD dengan atau tanpa tes baca tulis, yang jelas anak usia 4-6 tahun memiliki peningkatan perkembangan kecerdasan cukup pesat, dari 50 persen menjadi 80 persen.

Usia 4-6 tahun merupakan masa peka bagi anak. Saat itu, terjadi pematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespons stimulasi yang diberikan lingkungan. Dengan demikian, dibutuhkan kondisi dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal.

Mengapa ada praktisi pendidikan yang berpendapat agar anak tak diajari baca tulis sebelum berusia tujuh tahun? Itu tidak lebih sebagai warning kepada pendidik siswa prasekolah dan orang tua agar tidak gegabah dalam mengajarkan “membaca” kepada anak dalam rentang golden age tersebut. Penting bagi orang tua dan guru TK untuk memelihara lingkungan yang aman bagi anak usia ini. Praise (pujian), patience (kesabaran), dan practice (praktik) merupakan tiga keterampilan mendasar yang harus dimiliki pendidik dan orang tua selama mendampingi anak belajar membaca.

Dalam standar kompetensi kurikulum TK Depdiknas, antara lain, disebutkan anak mampu mendengarkan, berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, dan mengenal simbol-simbol yang melambangkannya untuk persiapan membaca dan menulis. Dari kurikulum itu, jelas bahwa awal pembelajaran membaca adalah masa prasekolah.

Yang harus ditekankan, mereka belum siap membaca secara formal. Sehingga, untuk mengantarkan anak usia prasekolah pada pemahaman bahwa ada hubungan antara bahasa lisan dengan tulisan (pra membaca) diperlukan perlakuan khusus. Misalnya, kegiatan mendengarkan dan membedakan bunyi suara dan mengucapkannya, mendengarkan dan menceritakannya secara sederhana, menghubungkan gambar dengan kata, menghubungkan tulisan dengan simbol yang melambangkannya. Itu akan mengantar anak cepat membaca dengan sendirinya.

Dengan pembelajaran yang benar tersebut, banyak orang tua bertanya kepada guru TK, mengapa anaknya tiba-tiba bisa membaca koran? Padahal, orang tua tidak pernah mengajarinya. Semua itu terjadi karena mereka memiliki pengalaman yang menarik sehingga mampu mendorongnya untuk belajar membaca dengan baik tanpa melalui proses drill dan drill. Proses drill justru akan menjauhkan anak dari proses alamiah mereka, yaitu bermain. Bagi anak usia prasekolah, bermain adalah sumber inspirasi dalam belajar.

Sebenarnya, dalam PSB ke SD, masih bisa dibenarkan tes baca tulis dan berhitung. Dengan catatan, itu dilakukan untuk observasi kepribadian siswa, bukan untuk tujuan tes akademik.

Masih banyaknya sekolah yang nekat melakukan tes baca tulis lebih disebabkan kekhawatiran guru, mengingat tekanan akademik yang dialami siswa kelas 1 SD saat ini amat berat. Beban pelajaran formal seperti IPA, IPS, matematika, bahasa Jawa, bahasa Indonesia adalah beban yang langsung harus dihadapi siswa kelas 1 SD. Proses belajar membaca yang benar di TK akan sangat membantu siswa ketika dia masuk jenjang sekolah dasar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: